Don't dream your life, but live your dream!

Don't dream your life, but live your dream!

Monday, 18 July 2011

Ketika rindu

Tidak terasa 19 tahun sudah aku menghirup udara di dunia. Memori masa kecil pun masih teringat jelas di benakku. Betapa mami dan papi menyayangi dan mencintaiku. Mereka merawatku sampai aku menjadi diriku di hari ini. Terkadang aku melawan mereka, terkadang aku mengacuhkan nasihat mereka, bahkan kerapkali aku menjawab mereka dengan 1000 kata ketika mereka hanya mengatakan 10 kata kepadaku. Seringkali aku menyedihkan bahkan menyakiti hati mereka. Namun, jauh di sudut hatiku aku menyesal telah membuat mereka terluka, aku menyesal telah menjadi alasan air mata mami jatuh di pipinya, aku menyesal telah membuat papi duduk terdiam kesal dan tidak tau harus bagaimana lagi menyikapiku.

Artikel ini berangkat dari rasa syukur yang teramat sangat atas keberadaanku dan keluargaku. Mami, papi, dan Geffry adalah anugerah terindah dalam hidupku. Mereka lah yang selalu menjadi motivasi dan semangat hidupku. Mereka lah yang menjadi alasan ku bertahan dan tegar. Mereka lah yang selalu memberi warna dalam lembaran-lembaran kisah hidupku, bahkan di lembar yang hitam pun, mereka tetap memberi warna lain untuk memudarkan hitamnya. Betapa aku bersyukur memiliki mereka dalam hidupku. Mereka adalah bukti nyata cinta Tuhan yang begitu besar kepadaku.

Dua paragraf di atas adalah intro dari artikel ini. Lagunya sendiri baru akan dimulai sekarang. Mami dan papi adalah aktivis Gereja. Mereka ikut ambil bagian dalam pelayanan sejak aku masih kecil, bahkan saat sebelum menikah, mereka telah aktif melayani di Gereja masing-masing, mami di Palembang dan papi di Kediri. Juga saat msa kuliah di Jogja, mereka melayani di persekutuan doa bersama-sama dan aku yakin inilah cara Tuhan mempertemukan mereka dan menumbuhkan benih cinta diantara mereka, cinta dalam Tuhan.

Gereja Katolik St.Paulus Bandung, tempat dimana aku terdaftar resmi sebagai umat di dalamnya, tempat dimana iman ku akan Yesus dipupuk dari sejak balita, tempat dimana mami dan papi aktif melayani, tempat dimana aku pun melayani, dan tempat dimana kami sekeluarga merayakan Ekaristi pada hari Minggu pukul 9.30. Kira-kira 10 tahun yang lalu, WKRI di gereja ku merayakan ulang tahunnya, aku lupa yang ke berapa. Saat itu ibu-ibu WK menyelenggarakan berbagai macam perlombaan untuk memeriahkan HUT WK St.Paulus. Masih kuingat jelas saat itu aku ikut serta dalam lomba fashion show anak.Saat itu usiaku kurang lebih 8 tahun. Dari kecil, mami rajin mengikutsertakan aku dalam berbagai macam lomba. Mulai dari menyanyi, fashion show, photogenic, bahkan sampai lomba 17 Agustusan. Ralat, lomba 17 Agustusan aku mendaftar sendiri lebih tepatnya. Begitulah seorang mami yang selalu aktif dan berusaha menggali bakat dan potensi anaknya. Dari sekian banyak lomba yang aku ikuti, beruntungnya aku sering keluar sebagai juara, baik juara 1,2,3, juara favorit, atau juara yang lainnya seperti pilihan penonton, yang pasti aku selalu mendapat piala dan hadiah. Mami lupa untuk mengajarkanku bahwa suatu hari bisa saja aku kalah dan tidak dapat piala.

Sampailah pada akhirnya perlombaan fashion show anak di gereja itu. Saat itu mami tidak ada persiapan khusus untuk lomba ku itu. Aku ingat betul, saat itu mami memakaikanku dress anak berwarna pink dan sepatu fantofel putih, lengkap dengan kaos kaki rendanya. Lomba diadakan di lapangan basket sekaligus lapangan parkir gereja kami. Singkat cerita pada saat itu aku tidak menang. Seorang aku yang masih kecil dan selalu dapat piala tidak mengerti apa arti perlombaan, apa arti menang dan kalah, yang kutau hanyalah maju, naik panggung dan dapat hadiah.Saat dibacakan nama pemenang dan tidak kudengar MC menyebut "Gea" aku pun menangis sangat kencang. Aku merengek-rengek pada mami, aku bersikeras ingin dapat piala dan hadiah. Aku cukup yakin saat itu mami sangat bingung harus bagaimna menghadapi gadis ciliknya yang lupa ia ceritakan tentang menang dan kalah. Entah bagaimana, aku pun menangis semakin kencang dan berguling-guling di lapangan basket itu. Membayangkannya saja aku sangat malu. Aku tak tau bagaimana malunya papi dan mami saat itu. Mami yang masih sibuk dengan si kecil Geffry kusibukkan lagi dengan ulahku itu. Ibu-ibu WK sangat baik dan sayang padaku. Bahkan beberapa diantaranya kusebut 'eyang' dan 'oma' dan kuanggap seperti nenekku sendiri.

Mereka akhirnya memberikan hadiah kepadaku untuk menghentikan tangis dan aksi guling-gulingku. Oh Tuhan! Kalau kuingat saat itu rasanya ingin lari dan tidak pernah muncul lagi. Betapa malunya aku ketika salah satu dari ibu-ibu WK menggodaku dan tertawa terkekeh mengingat kejadian saat itu.

Waktu begitu cepat berlalu. Hari ini aku sudah berada di Sydney dan melakoni peranku sebagai siswa di UNSW Foundation Studies. Kemarin (Minggu, 17/07/11) WKRI kembali merayakan HUT nya dan mereka kembali mengadakan lomba fashion show anak dan satu hal yang membuatku tertawa sekaligus menangis haru, mami menyaksikan lomba itu dengan duduk manis di kursi juri. Suatu kebetulan yang luar biasa!! Sepuluh tahun yang lalu aku disana sebagai peserta dan kini mami duduk disana sebagai juri. Aku yakin, ibu-ibu WK pasti masih ingat betul betapa waktu itu aku ngambek dan merengek ingin dapat piala. Betapa cepat waktu berlari, sangat tak terasa sudah sepuluh tahun dari aksi guling-gulingku itu.


Air mata tidak berhenti mengalir ketika
aku mengetik tulisan ini.
Aku menangis bahagia dan rindu akan kehangantan dimana kami berempat selalu bersama.
Aku pun yakin di ujung sana ada mami yang duduk di depan layar monitor dan menangis lebih dalam dari ku.

Aku rindu teriakan mami di pagi hari saat memangunkanku, aku rindu gayung dan air yang papi bawa ke kamar untuk menbangunkanku, aku rindu muka jutek dede yang sudah siap dari pagi tapi tetap telat karena ku. Aku rindu sofa dan kasur di ruang keluarga, dimana aku, mami, papi, dan dede selalu berkumpul bersama. Aku rindu D 168 ER yang selalu mengantarku kemanapun ku pergi. Aku rindu dapur dimana kami sekeluarga masak bersama. Aku rindu sofa biru tempat kami mendirikan mezbah keluarga. Aku rindu kantor dimana aku duduk menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk online *dan kena marah papi mami*, dimana aku membantu papi dan mami bikin proposal dan cek email. Aku rindu kamarku, saksi bisu yang mengerti semua kebahagiaan dan air mataku. Aku rindu Cherie si gendut dengan bulunya yang hinggap dimana-mana. Aku rindu Coki dan Cimi yang setia jadi penjaga rumah dan selalu berisik dengan gonggongannya, yang selalu sirik sama Cherie yang tidak berantai dan boleh masuk rumah.

Aku rindu pohon mangga yang sering dicuri buahnya. Aku rindu kamar mandi yang terakhir sebelum aku berangkat rusak shower nya. Aku rindu AC kamarku yang super dahsyat dan ajaib. Aku rindu kamar mami yang selalu jadi tempat ku berlari ketika aku curhat sama mami. Aku rindu car port tempat papi memanjakan D 168 ER. Aku rindu sofa tempat papi baca koran ditemani minuman kesukaannya - teh. Aku rindu kamar dede yang sering jadi tempat singgahku malam-malam dan tidak jarang teertidur disana dan pagi harinya diomelin dede. Aku rindu setiap sudut rumahku, terlebih lagi aku rindu orang-orang di dalamnya.


"Mami, papi... Tanpa kita sadari, sepuluh tahun telah berlalu. Sepuluh tahun telah kita lewati bersama. Tawa, riang, canda, airmata, semua menjadi pengiring hari-hari kita. Cici ga pernah berhenti bersyukur sama Tuhan karena terlahir sebagai anak papi dan mami. Walaupun cici sering ngebantah papi mami, walaupun cici sering berantem sama dede, cici tetap sayang sama mami,papi n dede. Itu semua ga akan mengurangi rasa syukur cici bisa memiliki mami,papi n dede dalam hidup cici. Makasih buat semua cinta kasih papi n mami buat cici sampai hari ini cici berdiri disini. Makasih buat kehadiran dede sebagai badut yang selalu menghibur cici, sebagai polisi yang selalu galak sama cici, sebagai teman sepermainan, sebagai teman berantem, sebagai dede yang sekarang udah lebih tinggi dan udah lebih galak dari cicinya. Cici bersyukur buat semuanya dalam hidup ini."



I LOVE YOU, MAMI, PAPI, DEDE


0 comments: